Sign In

x
  • slider
    Image 2
    Image 3
    Image 4
    Image 5
    Image 6
  • slider2
    New System
    Streaming Radio Ready
  • slider3
    Radio For NG People
    NG Radio
    Youth Streaming Station

Ristya Stefanie, Sang Pionir Gaun Pengantin Batik

Nextgradio.com - Dunia fashion saat ini kian berkembang khusus di tanah air. Lambat laun, semakin banyak bermunculan bakat-bakat di bidang mode, salah satunya adalah Ristya Stefanie. Meretas karir sebagai seorang tata rias ketika dirinya masih duduk dibangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Diceritakan olehnya, bahwa dirinya sudah gemar mendandani temannya ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. “aku itu dari kecil itu suka dandanin temen aku, waktu TK dan SD gitu,” kisahnya memulai obrolan sore itu. “saya itu dulu sering sekali diminta untuk mendadani anaknya temen mama saya, kaya event 17 agustusan, karnaval dan lainnya gitu, Modalnya, alat make up ibu saya” tandasnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa ketika usia menginjak 13 tahun, barulah dirinya mulai melangkah kearah perias professional dan mendapat upah kerja.” Ketika saya SMP kelas dua, umur 13 tahun itu, saya mulai tuh dapet bayaran,  saat itu sekitar tahun 2000 saya menerima uang jasa rias wajah Rp 15.000 per orang. Dengan total empat orang, saya mendapatkan uang Rp 60.000 untuk pertama kalinya dari merias wajah dan membeli alat make up darinya,” kenang wanita yang akrab disapa Tya saat di hubungi Nextgradio.com beberapa waktu lalu.

Seiring berjalannya waktu, ternyata keterampilan Tya dalam merias wajah mendapatkan apresiasi positif dari orang-orang terdekatnya, khususnya sang Ayah. Kemahirannya semakin terasah saat Tya mengeyam pendidikan S-1 Komunikasi di Universitas Petra, Surabaya.

Saat itu, dikala masih menumpuh pendidikan strata satunya wanita asal kota Pahlawan ini pun memberanikan diri merintis bisnis make up wedding.  Tya memutuskan mendirikan Ristya Stefanie Make Up & Wedding Design pada 2005, di usianya yang belum genap 20 tahun.

Baginya, menjadi seorang pebisnis nyatanya tidak semudah yang ia bayangkan, terlebih dirinya terbilang sebagai pelaku bisnis muda. Penuh peluh dan air mata pun dirasakan olehnya saat merintis usahanya tersebut. “Waktu itu umur saya 20 tahun. Order sudah hampir deal, tapi orang tua klien langsung membatalkan pesanan begitu tahu umur saya masih 20 tahun. Mereka tidak percaya kemampuan saya hanya karena saya masih sangat muda,” kenang ibu satu orang anak ini.

Melihat hal tersebut, bukan malah menjadikan dirinya mundur sebagai pelaku bisnis, justru dirinya semakin terdorong untuk semakin fokus dibisnisnya. Ide-ide cemerlang pun kian deras datang membuatnya kembali semangatnya, sampai suatu hari Tya mendapat ide membuat gaun pengantin internasional yang terbuat dari kain batik. Dapat dikatakan bahwa dirinyalah pionir desain gaun pengantin yang menggunakan bahan batik. “sebelum booming seperti saat ini, dulu itu saya yang memulai menggunakan bahan batik untuk desain gaun pengantin,” ungkap Tya lugas.

Tya pun tak tanggung-tanggung untuk mewujudkan idenya tersebut, ia pun rela berburu sendiri batik dan menghabiskan uang hingga ratusan juta rupiah dan hasilnya eksperimennya tersebut hanya bertengger di dalam lemari. Namun demikian, dirinya tetap optimis bahwa idenya tersebut nantinya akan menjadi semua gebrakan besar didunia fashion khususnya fashion tanah air.

“Setiap kali saya mendesain, saya tidak berpikir orang mau suka atau nggak. Saya melakukan ini untuk kesenangan saya. Kalau mereka tidak suka rancangan saya, ya sudah. Tapi ternyata, mereka bisa menerima,” katanya penuh bangga.

Lebih lanjut, aku Tya, gaun pengantin batik karyanya sudah beberapa kali tampil dalam ajang fashion show di kampong halamannya di Surabaya. Selain itu, ia pun juga pernah memamerkan karya dalam ajang bergengsi Jakarta Fashion Week beberapa tahun lalu. Dan benar adanya, sejak saat itu ia langsung kebanjiran order dari para calon pengantin yang mulai penasaran akan rancangannya.

Dirinya menyadari bahwa lesuksesan yang telah dicapainya saat ini tak lepas dari campur tangan sang pemberi hidup. Tya pun berharap agar bisnisnya kian berkembang dan yang terpenting adalah bisa Go International. “saya ingin Go International, memang kalau untuk pesanan sudah banyak yang memesan dari luar negeri, tapi yang saya ingin itu adalah buat fashion show karya-karya saya di luar negeri,” harap Tya tersenyum.

Cecez 2017-04-23