Sign In

x
  • slider
    Image 2
    Image 3
    Image 4
    Image 5
    Image 6
  • slider2
    New System
    Streaming Radio Ready
  • slider3
    Radio For NG People
    NG Radio
    Youth Streaming Station

Empat Film Bertemakan Feminisme Sebagai Inspirasi Di Hari Kartini

Nextgradio.com - 

“Wahai ibu kita Kartini putri yang mulia

Sungguh besar cita-citanya demi Indonesia”

Itulah sepenggal lagu nasional yang sering dinyanyikan oleh anak sekolah mengenai Raden Ajeng Kartini, salah satu dari beberapa pahlawan perempuan nasional yang berasal dari Jepara, Indonesia. Meski Kartini tidak berjuang langsung dalam peperangan melawan Belanda, namun cita-cita Kartini yang tinggi membuatnya berjuang demi kaum wanita untuk  mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dan menjadi awal untuk kemajuan dan kesetaraan gender bagi kaum perempuan di Indonesia.

Berikut ada 4 film nasional yang mempunyai tema feminisme dari segi ketangguhan perempuan dan dalam memperjuangkan emansipasi dan kesetaraan gender, yang bisa menjadi inspirasi bagi para perempuan Indonesia di Hari Kartini:

 

R. A. Kartini (1982)

Film yang disutradarai dan ditulis naskahnya oleh Syuman Djaya ini merupakan film biografi Kartini yang menceritakan riwayatnya sejak beliau lahir, dibesarkan dalam keluarga bangsawan Jawa yang sangat saklek, dipingit sejak lulus Sekolah Dasar, ketika beliau mulai mewujudkan impiannya dengan mengajarkan banyak hal kepada perempuan disekitarnya namun kemudian harus dinikahkan dengan Bupati Rembang yang sudah beristri, hingga beliau menghembuskan nafas terakhirnya di usia 25 tahun.

Film yang dibintangi Jenny Rachman sebagai Kartini tersebut menggambarkan dengan jelas bagaimana sifat Kartini, rasa ingin tahunya yang tinggi serta pemikiran dan pandangannya yang berbeda dengan perempuan pada jaman itu. Ketika harus menikahi suaminya yang berpoligami, Kartini lalu mengerti bahwa bukan musuh sebenarnya bukanlah sang suami ataupun istri-istri sang bupati, tapi sistem yang membuat semua itu terjadi. Beliau berharap suaminya dapat mengerti jalan pikirannya dan dapat membantunya mengubah sistem itu sehingga anak-anak mereka nanti tidak perlu mengalami nasib yang sama.

 

Surat Cinta Untuk Kartini (2016)

Film terbaru mengenai Kartini yang dirilis 21 April 2016 ini juga menceritakan mengenai perjuangan Kartini, namun dilihat dari sudut pandang seorang lelaki rakyat biasa. Sarwadi (Chicco Jerikho), seorang tukang pos yang baru pindah dari Semarang, mengantarkan surat untuk Kartini (Rania Putri Sari). Ia kemudian jatuh hati pada Kartini yang dari kalangan bangsawan, karna parasnya yang ayu dan kepeduliannya  terhadap rakyat kecil.

Pertemuannya dengan Kartini juga merubah cara pandang Sarwadi mengenai peranan perempuan yang diketahuinya selama ini. Ia pun kemudian membantu Kartini untuk mendirikan sekolah. Semakin lama perasaannya terhadap Kartini semakin dalam, namun kemudian harus terhalang karena Kartini harus dijodohkan oleh lelaki yang juga bangsawan.  

Didukung juga oleh Ence Bagus, Donny Damara, dan Ayu Dyah Pasha, film yang merupakan debut dari Rania ini merupakan film yang layak untuk ditonton, karena selain berlatar belakang sejarah yang diambil oleh sang sutradara Azhar Kinoi Lubis, film ini juga menceritakan kisah cinta yang tulus antara sepasang kekasih berbeda derajat.

 

Tjoet Nja’ Dhien (1988)

Berbicara mengenai pahlawan perempuan tangguh  Indonesia, tidak bisa terlepas dari peranan pahlawan yang satu ini, Cut Nyak Dien, pahlawan nasional dari Aceh. Namun berbeda dengan Kartini yang berjuang melalui pemikirannya, Cut Nyak Dien terjun langsung ke dalam peperangan melawan Belanda. Dikutip dari review oleh movienthusiast.com, “Tjoet Nja’ Dhien” menceritakan perjuangan Cut Nyak Dien (Christine Hakim) “secara periodik dari tahun 1895, dimulai disaat ia bersama suami keduanya, Teuku Umar (Slamet Rahardjo) yang kemudian tewas tertembak sampai pada akhirnya disaat ia tertangkap pada 1901 bersama sisa-sisa pasukannya.”

Film ini juga “bukan sekedar petarungan antara kebaikan dan kejahatan atau masyarakat terjajah dengan penjajahnya semata. Ada kegetiran dan perjuangan luar biasa melawan kegoyohan iman dari manusia-manusia yang ketakukan dibalik setiap Rencong yang terhunus, setiap peluru yang berhaburan dan setiap tetes darah yang mengalir. Sang sutradara “Eros Djarot mengahadirkan semangat patriotisme kental melalui napak tilas Cut Nyak Dien, Teuku Umur dan rakyat Aceh yang berjuang mati-matian membela negara dan agama mereka yang porsinya sama besarnya ketika ia mengeksplorasi karakter Cut Nyak Dien yang dibawakan dengan fantastis oleh Christine Hakim melalui elemen dramanya.”

Film yang memenangkan 8 Piala Citra termasuk film terbaik dan artis terbaik, termasuk film Indonesia pertama yang tampil di ajang Cannes dan sempat dikirim ke Oscar sebagai film asing terbaik ini juga didukung oleh Rita Zaharah sebagai Nya’ Bantu, Pietrajaya Burnama sebagai Pang Laot kaki tangan Dien, serta Rudy Wowor sebagai Veltman, tentara Belanda yang karismatik.

 

7 Hati 7 Cinta 7 Wanita (2010)

Jika biasanya Kartini digambarkan sebagai perempuan tradisional, di film 7 Hati, 7 Cinta, & Wanita atau 777 kali ini, sosok Kartini diwakilkan dalam sosok seorang dokter berpendidikan tinggi. 777 menceritakan mengenai Dokter Kartini (Jajang C. Noer) seorang dokter kandungan di Rumah Sakit Fatmawati, Dokter Rohana (Marcella Zalianty) dokter baru masuk kerja serta pasien mereka Yanti (Happy Salma) sang wanita tuna susila berperawakan riang cemerlang, Rara siswi SMP yang telat dua minggu, Ratna si buruh jahit yang solehah, Lili si penderita pukulan tiap kali berhubungan dengan suaminya,  dan Lastri, perempuan tembam yang tak hamil-hamil. Dari meja konsultasi di ruang kerja Dokter Kartini, ditunjukkan satu persatu kehidupan pasien dan apa sebabnya sampai mereka berakhir di ruang pengobatan. Tiga di antaranya karena hamil, satu karena sakit serius, satunya lagi karena tak hamil-hamil.

Berikut review film 777 yang dikutip dari cinemapoetica.com:

 “777 menempatkan lima karakter sebagai warga kelas menengah ke bawah, hanya Dokter Kartini dan Rohana yang bisa disimpulkan sebagai warga menengah ke atas, sebagai diceritakan mereka kuliah di fakultas kedokteran.  Dalam 777, permasalahan perempuan tak dapat dilepaskan dari tautannya dengan kelas sosial. Tidak hanya pemojokan lelaki secara garang pada lima karakter perempuan (disakiti secara seksual, dihamili, kanker rahim, dimadu diam-diam, diselingkuhi), Dokter Rohana tetap berpandangan bahwa tidak semua perempuan adalah korban. Adapun Dokter Kartini, ia membela perempuan (disebutnya sebagai “kaumku”) atas asas kesadaran intelektual yang ia anut. Kelas atas dalam 777 tak didera penindasan langsung dari laki-laki sebab mereka tak punya laki-laki, karakter kelas atas ini (terutama Dokter Kartini) justru dirundung kecemasan sebab tak ada laki-laki sebagai partner kehidupan mereka. Secara langsung, kita bisa memantulkan pandang bahwa keadaan sosial-ekonomi berpengaruh besar terhadap nasib seorang perempuan.”

Dengan kata lain, film 777 merupakan film mengenai perempuan dari sudut pandang bermacam kelas sosial yang ada dalam masyarakat masa kini.

 

Selamat Hari kartini untuk semua perempuan Indonesia.

#HariKartini #SuratCintaKartini #Kartiniday #2016

Sumber: 21cineplex.com, cinemapoetica.com, filmindonesia.or.id, movienthusiast.com.

Janey 2016-04-21