Sign In

x
  • slider
    Image 2
    Image 3
    Image 4
    Image 5
    Image 6
  • slider2
    New System
    Streaming Radio Ready
  • slider3
    Radio For NG People
    NG Radio
    Youth Streaming Station

Film Kartini (2017) Versi Hanung Bertaburkan Banyak Bintang Berbakat

Nextgradio.com, Sejak bulan Juni 2015, sutradara tanah air Hanung Bramantyo, sudah berencana untuk membuat sebuah film biografi mengenai Raden Ajeng Kartini, tokoh pahlawan nasional yang memperjuangkan emansipasi bagi perempuan Indonesia. Hanung pun sudah memilih Dian Sastro untuk berperan sebagai Kartini. Namun proses pembuatan film tersebut sempat tertunda dan baru beberapa waktu lalu tanggal rilis film Kartini bisa resmi diumumkan, yaitu 21 April 2017.

 

Hanung Bramantyo

 

Alasan penundaan jadwal rilis film Kartini

Penundaan jadwal tayang film Kartini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain dalam hal pendalaman riset dan persiapan yang matang, seperti yang dituturkan oleh sang produser, Robert Ronny, via Bintang.com:

"Tayang april 2017. Tertunda setahun karena butuh banyak riset dan persiapan," ucap Robert Ronny saat menggelar syukuran syuting film tersebut di Djakarta Theatre, Kamis (14/7/2016).

Hanung pun menuturkan bahwa alasan lain dalam penundaan film Kartini adalah karena dirinya dan seluruh cast and crew dari film Kartini ingin meyajikan sebuah cerita yang otentik, sesuai dengan fakta dan kisah nyata yang dialami oleh R.A Kartini. Karena itu ia tidak ingin proses syuting yang kejar tayang, namun pelan tapi pasti.

"Kita sikapi film ini relax aja, jangan ada istilah kejar tayang. Karena riset film biopik seperti mencari harta karun. Kita dapat data baru dan ketemu fakta baru, ubah skenario. Setelah syuting muncul data baru," ujar Hanung.

Ketika semua riset telah selesai dilakukan dan sudah ada gambaran yang pasti sesuai dengan sejarah latar belakang keluarga Kartini, barulah Hanung berani untuk memulai proses syuting bulan Juli lalu.

"Syuting udah mulai Juli dan tayang tahun depan. Tapi bisa ada syuting lagi, karena ketemu data baru otomatis berubah lagi," lanjutnya.

Film Kartini bertaburkan banyak bintang berbakat

Dikarenakan amanat dan nasihat dari keluarga mendiang Kartini bahwa para pemeran film Kartini haruslah memiliki citra yang baik, tak tanggung-tanggung, Hanung langsung memboyong banyak aktor berbakat peraih Piala Citra untuk membintangi film Kartini.

Tokoh utama Raden Ajeng Kartini diperankan oleh Dian Sastrowardoyo yang pernah mendapatkan Piala Citra 2012 sebagai Aktris Terbaik lewat perannya sebagai Cinta di film Ada Apa Dengan Cinta (AADC).

Berperan sebagai orang tua dari Kartini, Hanung menunjuk dua aktor senior Indonesia yang kemampuan aktingnya sudah tidak diragukan lagi, yaitu Deddy Sutomo yang berperan sebagai sang ayahanda, dan Christine Hakim sebagai ibunda dari Kartini. Deddy mendapat Piala Citra 2015, sedangkan Christine merupakan langganan peraih Piala Citra pada tahun 1974, 1977, 1979, 1985, 1983 dan 1988 dan 2014.

Sedangkan untuk berperan menjadi saudara dari Kartini, Hanung menunjuk Acha Septriasa sang pemenang Piala Citra 2012 lalu berkat perannya di film Test Pack, sebagai Roekmini, adik kandung Kartini; serta Ayushita sang peraih nominasi Piala Citra 2013 lalu sebagai Kardiah, saudara dari Kartini.

Selain itu Hanung pun mengajak lawan main Dian di AADC 2, Adinia Wirasti, yang pernah mendapatkan Piala Citra 2005 sebagai Pemeran Pendukung Wanita Terbaik dalam film Tentang Dia, untuk berperan sebagai Lastri dalam film Kartini.

Penggambaran Karakter Kartini versi Hanung Bramantyo

Kartini hidup pada masa ketika Indonesia masih dalam jaman penjajahan Belanda yaitu tahun 1879-1904. Meskipun sudah lama, namun Hanung yakin pemikiran Kartini masih sesuai jika diterapkan pada saat ini. Hal tersebutlah yang menjadi alasan Hanung untuk memilih Kartini menjadi tokoh utama filmnya.

"Pemikiran Kartini masih relevan sampai sekarang. Kartini dibatasi karena kebudayaan sebagai bangsawan yang harus menikah dengan bangsawan. Orangtua kalau punya anak perempuan, sampai sekarang, suka berfikir anak ini akan menikah dengan siapa. Dulu kebudayaan dipakai untuk membatasi aktivitas perempuan, sekarang agama yang dipakai untuk membatasi aktivitas perempuan," jelas Hanung.

Hanung menambahkan bahwa perempuan Indonesia sampai sekarang pun belum bisa bebas merdeka.

"Itu sebabnya film ini masih relevan sampai sekarang. Kenapa kartini, karena kalau dikaitkan dengan perempuan Kartini yang muncul. Pertanyaannya, ngertikah siapa itu Kartini? Karena itu saya pengin menyimpulkan Kartini versi saya," kata Hanung.

Perjuangan Kartini, lanjut Hanung, berbeda dengan perjuangan pahlawan wanita lainnya seperti Cut Nyak Dien, yang langsung mengangkat senjata di medan perang. Tapi perjuangan Kartini, lebih dititikberatkan pada usahanya untuk mendongkrak budaya tradisional Jawa yang membuatnya terkungkung.

Dikutip dari Bintang.com, Hanung menjelaskan karakterisasi Kartini seperti apakah yang akan disampaikan di filmnya. Hanung memilih untuk menggambarkan kehidupan Kartini dalam masa pingitan, karena pada saat dipingit, Kartini melemparkan pemberontakan. Hal inilah yang memicu perjuangan kesetaraan gender yang kemudian dikenal sebagai emansipasi.

"Kartini yang ingin digambarkan bagian saat Kartini mulai dipingit sampai kemudian menikah.  Yang dititik beratkan adalah bagaimana Kartini di umur 16-25. Kartini tidak bisa melakukan apa yang dia inginkan. Saat itu dia kesulitan karena dia perempuan dan Raden Ajeng," jelasnya.

Hidup sebagai bangsawan kala itu, membuat Kartini harus tunduk pada budaya tradisonal jawa yang masih saklek.

"Dia sudah digariskan menjadi Raden Ajeng yang harus menikah dengan bupati, kelas bangsawan. Tidak peduli jadi istri keberapa." jelasnya.

Takdir seorang Raden Ajeng saat itu adalah bersiap menjadi istri bupati. Karena itu, mau tak mau, Kartini harus belajar untuk menjadi istri bupati.

"Tapi Kartini ingin menjadi diri sendiri. Inilah akhirnya dia berkonflik. Dia bahkan nggak bisa menolak pilihan siapa yang menikahinya dan akan membuatnya jadi ibu. Itu sebabnya dia disebut sebagai pahlawan karena dia benar-benar memberontak," papar Hanung.

Mengenai perbedaan antara mendiang Kartini di jamannya dan Kartini di jaman modern, Hanung berpendapat bahwa Kartini jaman sekarang hampir sama dengan masa lalu meskipun sudah jauh lebih pintar, lebih canggih dan lebih mandiri.

“Kartini seperti anak remaja sekarang pinter bahasa belanda, suka nulis. Kalau anak sekarang pinter bahasa Inggris, nulis blog. sebenarnya sama, nggak ada bedanya," tutup Hanung Bramantyo.

Sumber: bintang.com, instagram.com, twitter.com

Baca juga:

http://nextgradio.com/news/71/perjuangan-dian-sastro-sebagai-kartini-untuk-perempuan-indonesia.html

#Film #Kartini #KartiniDay #April2017 #DianSastro #HanungBramantyo #Emansipasi #Perempuan #Indonesia 

Janey 2016-07-18